Recent posts

UN Dihapus!

foto www.iyasung.blogspot.co.id
UN dihapus! Entah ini kabar baik atau kabar buruk. Namun, sepertinya ini kabar baik dan menggembirakan bagi siswa di seluruh Indonesia. Karena tahun 2017, mereka tidak harus belajar sistem kebut semalam (SKS) dan berbohong dengan mengakali berkas soal bahkan mencari kunci jawaban untuk mendapatkan nilai ujian lebih bagus. Meskipun ujian nasional (UN) tidak lagi menjadi patokan sebagai kelulusan siswa di sekolah. Akan tetapi, setiap kali momen ini datang, sepertinya siswa dihadapkan pada persidangan masa depan dirinya antara menjadi generasi pintar atau generasi bodoh.

Setiap tahun UN selalu dilaksanakan. Setiap tahun pula UN menjadi musuh berat bagi siswa. Apalagi siswa yang di sekolahnya hanya menggugurkan kewajiban sekadar datang dan pulang. Tanpa menyerap mata pelajaran di sekolah dengan serius atau mengulang mata pelajaran setelah sampai di rumah. UN memang sebuah fenomena. Oleh karena itu, standar penilaian ujian ini seolah-olah bisa menyimpulkan bahwa pendidikan di daerah tertentu sudah maju atau masih kaut-marut. Padahal itu tidak bisa disamaratakan sebagai sebuah kegagalan atau keberhasilan dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah.

Wewenang Sekolah
Walaupun UN bukan menjadi standar kelulusan siswa, tapi hal tersebut menandakan bahwa sistem pendidikan di negeri ini belum ajeg lan kokoh. Kurikulum sebagai standar baku pelaksanaan pendidikan di sekolah seperti menjadi ajang uji coba bagi para pemiliki kebijakan. Sementara para siswa di sekolah harus pasrah menjadi kelinci percobaan atas kebijakan itu. Dengan begitu kesemrawutan persepsi cara mengajar sesuai standa tersebut antarguru di sekolah membuat bingung yang ujungnya berpengaruh tidak baik untuk keberlangsung siswa dalam belajar.

Seharusnya kurikulum sudah menjadi paten yang tidak bisa diubah-ubah sehingga guru dan siswa lebih fokus mengajar dan belajar menuju hasil pendidikan bermutu. Kemudian UN juga tidak harus menjadi standar baku dalam menyimpulkan keberhasilan siswa dalam belajar. Apalagi dijadikan keberhasilan sebuah pendidikan di suatu daerah. Karena yang paling tahu dan paham sistem tersebut terlaksana adalah guru di sekolah. Dengan demikian, wewenang sekolah sebagai lembaga pendidikan yang mengukur siswa tersebut pantas lulus atau tidak akan maksimal. Sedangkan UN diadakan ataupun ditiadakan cukup hanya sebagai sampel administrasi untuk pihak pusat dan dijadikan bahan evaluasi dan perbaikan. Apakah sekolah-sekolah di daerah tersebut kekurangan sarana-prasarana, kekurangan guru, atau kurang bahan ajar.       

Gebrakkan kebijakan setiap kali pergantian kepemimpinan dalam sebuah instansi pemerintah sudah menjadi hal biasa di negeri ini. Bahkan hal tersebut cenderung seperti ingin menunjukkan bahwa kepemimpinan dulu dengan kebijakan lamanya sehingga harus diganti dengan kebijakan baru dari kepemimpinan baru. Kebijakan sering berganti-ganti itu cenderung membuat pusing tujuh keliling pendidik atau guru yang merasakan langsung di lapangan. Karena mereka harus menyesuaikan diri dengan cepat terhadap kebijakan baru itu. Seandainya ada formula lebih bagus namun sederhana dalam memajukan pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa, kemungkinan para guru akan memilih cara itu ketimbang harus mengulang sistem-sistem pendidikan yang baru tapi prosesnya hampir sama, yakni sama-sama bikin susah.[*]

Januari-April 2017

Muhzen Den lahir di Kampung Ciloang, Kota Serang, Banten. Menamatkan pendidikan mulai dari SD hingga perguruan tinggi (S1) di Banten. Aktif berkegiatan di Rumah Dunia sebagai relawan. Sekarang tengah merantau di DKI Jakarta menjadi pegawai swasta di perusahaan media nasional.







Nilai-Nilai Religius dalam Film KMGP


Dewasa ini, perkembangan film Islam mulai marak menghiasi bioskop-bioskop di seluruh Indonesia. Dimulai dari booming nan fenomenalnya film Ayat-ayat Cinta (2008), disusul Laskar Pelangi (2008), Ketik Cinta Bertasbih 1 &2 (2009), dan Sang Pencerah (2010) yang menjadikan film ini banyak ditonton dengan daftar penonton mencapai jutaan orang. Kemudian berlanjut ke film Perempuan Berkalung Sorban (2009), Hafalan Salat Delisah (2011), Negeri Lima Menara (2012), 99 Cahaya di Langit Eropa (2013), Assalamualaikum Beijing (2014), Surga yang Tidak Dirindukan (2015), dan lainnya yang menandakan bahwa film Islam tak pernah surut sehingga banyak disukai para penontonnya.
Belum lama ini film Islam kembali tayang di bioskop yang sejak diwacanakan akan difilmkan sudah ditunggu-tunggu para penonton, yakni Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP), sebuah film adaptasi dari cerpen dengan judul yang sama karya Helvy Tiana Rosa. Film KMGP unjuk diri ambil bagian dalam semarak dakwah Islam lewat media film untuk membentengi umat Muslim dari gempuran budaya Barat dan perkembangan ilmu teknologi yang semakin canggih. Sebab zaman modern ini umat manusia, khususnya Muslim, terbuai dengan segala macam produk instan sehingga terlena dan lupa karena bahwa dirinya sedang terpengaruhi budaya asing. Karena itu, film Islam selain menjadi alternatif hiburan, juga sebagai ruang pengingat akan nilai-nilai agama agar iman umat Muslim semakin kokoh.
Film KMGP bercerita tentang tokoh Mas Gagah Perwira Pratama atau Mas Gagah berjuang memperbaiki diri dan lingkungannya dengan agama dari gempuran perkembangan zaman yang semakin pesat, terutama pergaulan bebas. Sejak ayahnya meninggal, Mas Gagah berupaya menjadi sosok pemimpin di rumah, terutama untuk adiknya Gita. Mas Gagah menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja menjadi model, pekerja lepas, dan lainnya, untuk membantu mamanya.
Namun, ketika Mas Gagah memutuskan pergi ke Ternate, Maluku, untuk urusan penelitian skrpisi. Mas Gagah sepulang dari Ternate menjadi pribadi yang berubah drastis setelah bertemu dengan Kiai Gufron. Mas Gagah menjadi pribadi tenang, berserah diri, rajin beribadah, dan menjauhi hidup bermewah-mewahan (hedonis). Akan tetapi, perubahan Mas Gagah tidak disukai Gita. Gita merasa perubahan Mas Gagah terlalu cepat dan janggal sehingga membuatnya muak dengan embel-embel agama.
Berbagai macam cara Mas Gagah memberi pengertian kepada Gita tentang pilihannya, tapi Gita meolak. Gita tetap teguh pada pendiriannya bahwa Mas Gagah bukan lagi kakaknya dulu, yakni kakak yang selalu ada dan menuruti apa mau Gita. Konflik antara Mas Gagah dengan Gita melibatkan Mamanya yang juga tidak ingin melihat kedua anaknya bermusuhan sehingga menengahi. Perjuangan Mas Gagah membentengi diri dengan agama tidak mudah. Meskipun Mas Gagah mulai terlibat organisasi masjid dan banyak membantu kaum lemah. Tetapi, ajakan berubah (hijrah) menjadi lebih kepada adiknya selalu dimentahkan. Gita tetap resisten.
Tidak lama, Mas Gagah membuktikan jalan hijrahnya dengan mengabdi untuk masyarakat. Mas Gagah membantu tiga mantan preman di kampung nelayan yang peduli pendidikan terhadap anak-anak dengan mendirikan Rumah Cinta. Melihat Mas Gagah semakin hari menjadi lebih baik, Mama tergerak mengikuti jejaknya. Apalagi setelah menghadiri pembukaan Rumah Cinta di kampung nelayan sehingga membuat Mama semakin yakin untuk hijrah.
Pada suatu hari, Gita sudah tidak lagi mengandalkan jasa kakaknya mengantar-jemput ke sekolah bertemu seorang lelaki  (Yudi) di dalam bus metromini. Lelaki itu perangai dan cara berkatanya hampir sama dengan Mas Gagah, yakni mengajak orang-orang untuk hijrah ke arah lebih baik. Awalnya, Gita terus menolak dan melawan bila bertemu dengan Yudi. Namun, peristiwa demi peristiwa silih berganti menghampiri Gita, terutama ketika Gita di bus ponselnya dicopet kemudian diselamatkan Yudi dan ada insiden penyenderaan. Gita terkesan dengan kebaikan Yudi sehingga mulai mencari tahu tentang Islam.
Dari peristiwa itu, Gita bingung dan bertanya-tanya tentang hal yang menimpa dirinya. Apalagi di sekolah teman satu kelasnya, Tika, juga berubah memakai jilbab karena dekat dengan anak Rohis. Sepulang dari sekolah Gita justru mendapati Mamanya mulai mengenakan jilbab karena alasan sudah mendapatkan hidayah. Pada adegan ini menjadi adegan terakhir dalam film KMGP dengan ujung cerita menggantung (open ending).

Kebaikan dan Etika Keagamaan
Cerita pendek Ketika Mas Gagah Pergi merupakan cerpen yang ditulis Helvy Tiana Rosa sejak tahun 1992 dan pernah terbit di Majalah Annida pada 1997. Dalam kurun waktu dua puluhan tahun tersebut, naskah cerpen Ketika Mas Gagah Pergi masih relevan dengan kondisi masyakarat sekarang. Terlebih, setelah diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama akan menjadi lebih mudah diapresiasi.
Menurut T.S. Eliot, seorang penyair Inggris mengatakan, ukuran nilai suatu karya sastra harus dilihat dari aspek etika dan keagamaan. Bila ada gagasan atau semacam kesepakatan dalam suatu masyarakat tentang etika keagamaan, maka karya sastra haruslah “baik” sesuai dengan etika keagamaan tersebut. Karena itu, mulai dari naskah teks sampai menjadi sebuah media digital (audio-visual/film) karya Helvy Tiana Rosa mengandung nilai kebaikan dan etika keagamaan sehingga layak dikaji/diapresiasi, baik dalam bentuk teks maupun film.
Nilai kebaikan dan etika keagamaan di film KMGP bisa tampak dari adegan saat Gita mengetuk pintu kamar Mas Gagah dan tidak dijawab oleh Mas gagah. Gita melihat ada stiker tulisan Arab gundul di pintu kamar kemudian mengucapkan “Assalamualaiku” dan dijawab Mas Gagah “Walaikumsalam”. Nilai berikutnya saat adegan Mas Gagah memutar musik Islam atau beraroma agama di tape recorder mobil sambil melafalkan hafalan surat Alquran, tapi minta ganti oleh Gita karena tidak mengerti serta kurang ngetren. Mas Gagah pun menjelaskan bahwa musik beraroma Islam atau agama bermanfaat untuk hati/iman dibandingkan dengan musik lainnya.
Selain itu, ketika adegan tokoh Yudi berdakwah di dalam bus ketika di bus itu juga ada Gita. Yudi mengutip sebuah hadis Rasulullah bahwa “Sampaikanlah ilmu walaupun hanya satu ayat”. Atau ketika adegan Mas Gagah memberi wejangan kepada Tika tentang kebaikan dan etika agama bahwa “Meskipun pilihan seseorang berbeda, tetapi kita harus menghargainya”. Hal itu jelas film KMGP ini sarat dengan nilai-nilai yang dijabarkan di atas. Dengan begitu, kiranya kita sebagai pembaca maupun penonton bisa mengambil hikmah dan pelajaran dalam film beraromakan Islam.
Sayangnya, beberapa adegan di film KMGP tampak janggal pada potongan-potongan alur ceritanya. Selain itu, motif-motif permasalahan yang dihadirkan atau secara sebab-akibat (kasuistik) pengemasannya kurang lembut sehingga seperti dipaksakan. Namun, bukan berarti mengurangi esensi dari film tersebut. Bagi para penonton yang belum menonton atau sudah harus baca teks cerpennya agar lebih paham secara mendalam. Semoga pada sekuel film berikutnya, KMGP #2, akan lebih baik lagi. Salam literasi.

Kebonsirih, Januari 2016

Sadap!


dari www.de.freepik.com
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta jajaran pejabat dan mantan pejabat dibuat geram dan marah. Bukan persoalan rakyat yang terus menuntut keadilan dan kesejahteraan karena uang negara hampir habis dikorupsi oleh para oknum pejabat yang tidak bertanggung jawab, tetapi persoalan Negeri Kanguru (Australia) yang diam-diam selama ini memata-matai bahkan mencuri dengar perbincangan rahasia di jajaran pemerintahan Indonesia melalui perantara media teknologi komunikasi (ponsel).
            Pantas saja presiden berang dengan perilaku kurang menyenangkan itu. Pasalnya, Indonesia adalah target negara berkembang yang potensial secara ekonomi, politik, dan kebudayaan untuk kemajuan Australia. Karena itu, Australia melakukan sadap terhadap ponsel yang digunakan pejabat penting, yakni Presiden Susilo Bambang Yudoyono, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ibu Ani, dan pejabat lainnya. Melalui perkara sadap ponsel, pihak Australia berharap mendapat informasi penting yang bisa menentukan arah masa depan negara tersebut.
            Perilaku sadap-menyadap sebenarnya menjadi ranah kerja badan Intelijen hampir di semua negara. Akan tetapi, kata sadap menjadi istimewa dan populer karena subjek dan objek yang melakukan adalah orang penting punya kuasa sehingga ada kekuatan dan nilai. Selain itu, juga ada nilai berita (news value) untuk media massa, baik cetak maupun elektronik.
            Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sadap mempunyai arti mengambil air (getah) dari pohon nira dengan menoreh kulit atau memangkas mayang atau akar. Sementara menyadap berarti mendengarkan (merekam) informasi (rahasia, pembicaraan) orang lain dengan sengaja tanpa sepengetahuan orang tersebut. Kemudian penyadap adalah orang yang melakukan, alat untuk menyadap; perekam, serta penyadapan adalah proses, cara, perbuatan, menyadap.
            Dalam KBBI sudah begitu jelas arti dari kata sadap. Jika merujuk bahasa Inggris ada kata spy (mata-mata), spy on (memata-matai), dan spy out (menyelidiki dengan diam-diam). Perkara kata sadap memang sederhana, yakni siapa orang yang melakukan (subjek), kepada siapa yang dikenai (objek), dan apa tujuannya.
            Padahal kata sadap tidak istimewa dan menjadi hal positif bagi para petani karet atau para buruh pabrik karet. Karena bagi para petani atau buruh tanpa rutinitas sadap-menyadap segala persoalan hidup dan upah dari hasil suatu pekerjaan akan terhenti. Sementara bagi kalangan orang penting (penguasa/pejabat negeri), kata sadap menjadi hal negatif jika merujuk pada rahasia penting atau kebijakan penting, karena itu bisa menggoyahkan kestabilan kekuasaan dan perkembangan negara ke depan.[Muhzen Den]

Diskusi Asyik Bersama Uttiek


Setelah tiga pekan lalu (Rabu, 28/12/2016) mengikuti diskusi buku Dark Memory karya Jack Lance yang diselenggarakan di Toko Buku Gramedia Sentral Park, Jalan S Parman, Jakarta. Kali ini buku Journey to Andalusia karya Marfuah Panji Astuti atau biasa disapa Uttiek pada hari ini, Sabtu (21/1), menjadi bahan diskusi.

Melihat cover buku itu terlihat meremaja dan menarik minat pembaca. Awalnya pembaca mengira penulis buku adalah seorang blogger dari kalangan ibu rumah tangga biasa tanpa embel-embel latar belakang pengalaman lainnya, tapi perkiraan akan salah. 
  
Setelah membaca dibalik buku Journey to Andalusia membuat setiap pembaca tercengang. Kata-kata yang dituliskan begitu runut, kronologis, deskriptif, dan naratif, sehingga enak dibaca. Tak tahunya, penulis buku tersebut punya segudang pengalaman menulis yang juga seorang jurnalis di Tabloid Nova.   “Awalnya, saya tidak merencanakan tulis perjalanan yang sempat diunggah di blog pribadi akan diterbitkan. Apalagi perjalanan ini dilakukan tahun 2015. Jadi ini hanya permintaan penerbit,” ujar penulis buku Journey to Andalusia saat mengawali diskusi inti bukunya.

Kursi-kursi yang disediakan panitia acara dari penerbit BIP tampak penuh oleh pengunjung dan juga para blogger. Pemaparan tiap pemaparan diungkapkan dengan gamblang oleh Uttiek mulai dari pengalaman traveling hingga tip dan trik sebelum serta saat traveling.

“Di buku ini, perjalanannya dimulai setelah umrah di Madinah. Kemudian mengambil rute ke Maroko hingga ke Spanyol, Andalusia. Kadang kita sebagai pejalan sering mempertimbangkan traveling ke Eropa karena tidak bisa dengar suara azan dan memilih makanan yang halal. Di buku ini, saya menjelaskan hal-hal tersebut. Kalau tidak mau pusing, ada kok aplikasi tentang itu,” ujar Uttiek.

Dalam sesi tanya-jawab, hampir sepuluh peserta mengajukan pertanyaan mulai dari mengapa cover bukunya seperti remaja hingga proses kreatif menulis. Mbak Uttiek begitu lancar menjawab satu per satu dari pertanyaan peserta.

“Sebisa mungkin bagi kita yang sering traveling, jangan menunda menulis. Tulis apa yang ada saat perjalanan tersebut. Menulis langsung saat momen traveling dengan menulis setelah traveling akan berbeda. Kalau saya ketika melihat suatu momen menarik dalam traveling, langsung ditulis. Jadi akan berbeda rasanya ditulis langsung dengan diendapkan. Tapi terpenting, kita jangan menunda menulis,” ujarnya.

Pada sesi terakhir diskusi buku Jounery to Andalusia, Marfuah Pani Astuti atau Uttiek membocorkan buku catatan perjalanan yang sedang digarapnya hampir 70% selesai. Buku yang akan terbit tersebut berjudul Screte to Daulah Ottoman. Acara diskusi pun ditutup dengan tanda tangan penulis dan foto bersama.[Muhzen]

Bincang-bincang Bersama Jack Lance

JAKARTA – Pada Rabu, 28 Desember 2016, sekitar pukul 10.00 WIB, di pelataran pintu masuk Toko Buku Gramedia Mal Central Park dipenuhi pengunjung mulai dari anak muda hingga orang tua. Mereka berjajar duduk memenuhi kursi yang disediakan panitia menghadap panggung berdekorasi backdrop warna hitam dengan gambar wajah serigala bertulis Dark Memory.
Ya, siang hari itu sedang berlangsung diskusi buku Dark Memory karya Jack Lance (penulis asal Belanda). Oleh karena itu, kesempatan mengikuti acara kreatif tersebut tidak disia-siakan oleh pengunjung Mal Sentral Park, terutama saya bersama istri. Sebab panitia menyediakan goodie bag gratis berisi buku yang didiskusikan dan kudapan. 

simbolisasi penyerahan buku Dark Memory (foto dok/pribadi)
Sebelum acara inti diskusi dimulai, terlebih dahulu ada simbolisasi serah terima buku dari pimpinan penerbit Buana Ilmu Populer (BIP) kepada Jack Lance bahwa buku Dark Memroy tersebut telah diluncurkan. Para pengujung langsung membidikkan mata kamera ponselnya mengabadikan momen tersebut.
Pada awal diskusi, Jack Lance yang jauh-jauh dari Belanda memaparkan pengalaman menarik tentang imajinasi anehnya serta proses kreatif menulis buku tersebut. “Saya menulis buku ini terdorong rasa pemikiran saya yang liar dan aneh. Terkadang saya membayangkan sebuah telur yang direbus matang kemudian ketika dikupas berisi anak ayam atau itik,” ujarnya sambil terkekeh disambut tawa peserta diskusi.
Selain itu, Jack menjelaskan proses kreatif menulis buku tersebut yang memakan waktu hampir dua tahun. Sebelumnya, Jack juga pernah menerbitkan buku novel The Day You Died diterbitkan di penerbit yang sama Buana Sastra (imprint cabang BIP) dengan genre misteri. “Selama menulis buku ini, saya sering berkhayal aneh tentang sesuatu yang terjadi dalam kehidupan. Karena itu, buku ini banyak terjadi revisi dari segi cerita agar lebih baik,” ujar pemilik nama asli Roy Puyn yang juga memiliki istri asli dari Makassar, Sulawesi Tengah.  
Ketika ditanya apakah Jack juga memiliki keanehan dalam hidup atau keseharian bersama keluarganya. Jack menjawab bahwa keseharian bersama keluarganya normal-normal saja. “Saya dan anak-anak biasa saja. Tapi mungkin karena imajinasi yang aneh dan menyukai cerita-cerita aneh, maka menulis novel misteri seperti itu,” katanya.
Acara diskusi selama satu jam setengah tersebut pun diakhiri. Jack dalam penutup diskusinya berharap novel yang dia tulis bisa dibaca banyak oleh masyarakat Indonesia. Acara diskusi ditutup dengan tanda tangan buku oleh penulis dan foto bersama.[Muhzen]

Menjadi Muslim Pemberani





“Sikap pemberani adalah kekuatan jiwa. Pemiliknya dapat mengemban perkara-perkara yang mulai dan menjauh dari hal-hal hina. Kekuatan yang menjadikannya besar meskipun dia kecil, kaya dalam kemiskinannya, dan kuat dalam kelemahannya. Kekuatan yang menjadikannya memberi sebelum menerima, melaksanakan kewajiban sebelum meminta hak: Kewajiban terhadap Tuhannya, diri, dan agamanya. Tidak akan berkembang sikap pemberani yang masih kosong dan mendidik para kesatria yang saleh, kecuali dalam naungan akidah yang dan kemuliaan kukuh.”

(Dr. Yusuf Qardhawi)

Calon Pemimpin Harus Berani

Dalam pemilihan kepada daerah (pilkada) serentak yang akan digelar tahun 2017, mulai bermunculan para figur calon pemimpin peserta pilkada, baik baru maupun yang lama, meramaikan suasana hajat demokrasi tersebut. Para calon pemimpin ini tak hanya berlomba-lomba tampil di media iklan menawarkan janji politik jika terpilih nanti. Bahkan ‘mendadak peduli’ dengan hadir di tengah masyarakat menjemput keluhan (aspirasi) melalui dialog dan mendengar langsung keinginan masyarakat sebagai calon pemilih. Semua itu dilakukan para calon pemimpin hanya untuk menarik simpati suara pemilih agar bisa terpilih duduk di kursi kekuasaan, dalam konteks pemimpin daerah.

Provinsi Banten dibentuk dan diresmikan sejak tahun 1999, yang secara geografis berada di ujung barat Pulau Jawa dan hasil pemekaran dari Jawa Barat, telah mengalami pasang surut pergantian pemimpin. Pada tahun 2001, pemilihan Pilgub Banten pertama kali dimenangkan Djoko-Atut untuk periode 2001-2006 (Djoko Munandar sebagai gubernur dan Ratu Atut sebaga wakil). Namun tahun 2005, Djoko terseret kasus dana perumahan senilai Rp14 miliar sehingga kepemimpinannya turun kepada Atut. Pada Pilgub 2006, Ratu Atut mencalonkan lagi bersama HM Masduki dan memenangkan pemilihan untuk periode 2006-2011. Kemudian tahun 2011, Ratu Atut naik lagi nyalon berdampingan dengan Rano Karno dan menang pemilihan untuk periode 2011-2016.

Selama hampir tiga periode dipimpin putra daerah (Djoko-Atut, Atut-Masduki, dan Atut-Rano) perkembangan pembangunan Banten jauh dari kata sejahtera. Karena paling menonjol selama perjalanan Banten sebagai provinsi baru yang berkembang adalah sisi negatifnya, yakni korupsi. Sedangkan sisi positifnya hanya berkembang di antara para kroni penguasa berupa jaringan kedudukan mapan dan akses menuju dana APBD. Lantas, apa yang didapatkan rakyat? Yakni infrastruktur bolong, akses sarana-prasarana mentok di pintu birokrasi, dan fasilitas umum berumur jagung.

Melihat kondisi seperti tersebut, jelas kepemimpinan putra daerah tak selamanya memberi kebagusan menduduki kursi kekuasaan. Justru yang ada hanya memperkaya diri sendiri untuk keluarga penguasa tersebut. Selama 16 tahun Provinsi Banten berdiri, manfaat pembangunan daerah dan kesejahteraan ekonomi masih jauh panggang dari api. Bahkan sejak kursi kepemimpinan Provinsi Banten beralih dari Ratu Atut ke Rano Karno karena Ratu Atut terlibat korupsi suap Pilkada Lebak, juga perkembangannya belum signifikan. Meskipun saat dipimpin Rano Karno (2015-2016) ada roh kebangkitan dan optimisme baru yang diembuskan, tapi dalam jangka waktu satu tahun lebih tidak cukup memberi perubahan untuk Banten.

Pemimpin Pemberani
Na’im Yusuf dalam bukunya berjudul Seberapa Berani Anda Membela Islam? (2016) menjelaskan kriteria Muslim pemberani ada tiga belas sikap, yakni mencintai masjid, menyeru ke jalan Allah, bersungguh-sungguh dan tanggap, bersikap aktif dan bertanggung jawab, bercita-cita yang tinggi, mulia dan terhormat, berani di atas kebenaran, berani, berjihad dan berkorban, teguh di atas kebenaran, sabar dan membiasakan diri, memenuhi janji dan jujur kepad Allah, serta tidak mudah putus asa dan pesimis.

Dari ketiga belas sikap pemberani yang dikriteriakan Na’im Yusuf, maka calon pemimpin Banten harus memilikinya. Salah satunya adalah sikap berani di atas kebenaran. Artinya, calon pemimpin Provinsi Banten ke depan harus berani menolak cara-cara suap atau korupsi. Sebab keterpurukan Provinsi Banten selama 16 tahun ini karena pejabatnya doyan korupsi. Kemudian calon pemimpin Provinsi Banten juga harus berani jujur dan bertanggung jawab.

Kini, mari kita tinggalkan tiga periode buruk kepemimpinan Banten yang diduduki putra daerah atau dinasti Atut. Saatnya berbenah dan bersiap diri menatap ke depan dengan membusungkan dada optimisme menyambut Pilkada Serentak 2017 yang akan digelar 12 Februari. Ada dua calon peserta pilkada di Banten, yakni Wahidin Halim-Andika Hazrumy dan Rano Karno-H Embay Mulya Syarif. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam program kerja yang dijanjikan. Kita sebagai peserta pemilih harus cerdas memilih kedua calon tersebut. Jangan mau diakali untuk memilih salah satu calon hanya karena diberi amplop berisi uang atau bentuk pemberian lainnya. Pakailah hati nurani dan otak. Siapakah di antara kedua calon tersebut berhak dan pantas memimpin Provinsi Banten? Semua kembali kepada kita. Karena masa depan Banten untuk lima tahun ke depan dan seterusnya ada  di tangan kita. Rakyat Banten!***
   
Muhzen Den adalah pemuda kelahiran Ciloang yang sedang merantau di Jakarta.